Abstrak
Membaca puisi-puisi yang terhimpun, bisa dikatakan sebagian besarnya dilahirkan oleh luapan perasaan yang berkecamuk. Entah senang, sedih, murka, kecewa dan lainnya. Jo Nico N, pada puisi Kala Itu, menyatakan perasaan yang sedih dalam ingatannya. Sebuah ruang taman bermain yang ia cipta, merupa waktu tertentu dimana kejadian itu tengah berlangsung. Detik jam pun terus berjalan, dimana kita tidak bisa pintar menyembunyikan segala peristiwa. Pada sebuah momen tertentu, lamat-lamat kita masih bisa mengingatnya: //debu-debu itu, di awan, terbawa oleh angin yang mengiringnya/ teringat, betapa lamanya kuberayun di taman itu.// Puisi-puisi karangan Nisrina lebih sendu lagi. Ia memintal sehelei benang merah yang rapuh dari kesemua puisinya, yaitu Nisrina terpaksa harus tinggal di dunia utopis yang didirikan di alam sadarnya sendiri. Time and a Hope, Rain dan The Key dengan harapan pesimis dari Jo Nico N tidak mau kalah. Meski dari sisi isi agak ringkih, tapi patut dihargai dari sisi proses kreatifnya. Sebab uneg-uneg mereka telah berhasil keluar menjelma karya yang indah. Sementara Bahu Penyair Elzan, menghadirkan kondisi perasaannya yang kini diliputi bahagia. Dengan terlebih dahulu menyaji kepingan berdebu atas masa lalu: //sebenarnya, aku tak pernah memiliki/ kesan apa pun dengan bahu seorang manusia.// Kata bahu dengan konotasi sandaran bisa bermakna seorang yang ia percaya untuk menaruh curahan hati. Dalam kisah anak SMA, bisa kekasih atau kerabat teristimewanya. Elza pun tahu kapan saatnya harus bahagia, yaitu: //saat kita bertemu.// Kisah kebahagiaan hati yang mirip juga terlihat pada Pertemuan Ujung Jari dan Senang. Ada pula tentang keresahan jiwa yang tengah merindu. Dua Empat Pertujuh, Moody dan Kenangan menegaskan pernyataan itu. Rindu yang lain, menerangkan cita-cita harapan yang masuk akal untuk dimungkinkan terjadi. Terdapat dalam puisi Surat, Permulaan, Aku Lapar, Nasi Goreng dan Ingin. Lalu dari Den Haag, Saffanah membaca kabar getir. Kepergian jauh untuk belajar (merantau) yang seharusnya dinikmati dengan bersyukur, malah kerap disiakan oleh segelintir orang. Saffanah menyisipkan kritik dalam kalimat //masih ada yang mengeluh.//Maka dari segi nasib, Saffanah berpesan: sudah seharusnya kita melihat ke bawah, yang belum seberuntung kita. Bertolak dari negeri kincir angin, ada sejumlah puisi yang berupaya menyuarakan nasionalisme. Puisi Indonesia karangan Jo Nico N mengangkat topik sosial. Gelisah Jo Nico diungkap dengan memakai diksi simbolis plastik yaitu sebagai negara kita, dan si peniup sebagai oknum perusak negara. Kekhawatiran serupa juga dinyatakan Khonita melalui kata saya, yang bermakna Indonesia. Semoganya, //mereka yang rindu keadilan, mereka yang haus perhatian// dapat lebih terdata menempuh jalan ke arah yang lebih baik. Selebihnya, berbicara mengenai permasalahan urusan dalam lingkup anak sekolah. Rasa suka atau duka terhadap lawan jenis, pergolakan batin soal. Semacam curhat, tapi beda dari segi penyampaian. Bila yang lain bertukar omongan, anak-anak di buku ini berdialog melalui media cantik bernama puisi. Positifnya, selain menjadi kepuasan diri karena melahirkan karya, juga bisa sebagai catatan instrospeksi diri. Masing-masing penyair punya suasana tersendiri dalam memasak puisi agar gelisahnya dapat tersaji untuk dinikmati. Dari Titik Awal dituturkan bahwa kisah awal terciptanya antologi puisi ini, bertolak dari keisengan siswa mengisi konten blog. Hasil tulisan dan minat mereka dalam menulis kemudian dirangkul sebagai bentuk apresiasi. Melalui program Pena Siswa, mereka dibina untuk ditanamkan kesadaran pentingnya berliterasi, seperti mengadakan kegiatan pengkajian buku dan diskusi tulisan secara rutin. Di luar catatan itu, pertama ingin saya sampaikan kata selamat atas terbitnya buku antologi ini. Saya sungguh bangga kepada siswa SMA Diponegoro 1 Jakarta yang telah berkarya mencipta puisi. Kerja cerdas dalam berliterasi dibangun perlahan dengan tetes semangat mereka. Atas nama sebuah harapan: agar dapat ditularkan ke segenap teman yang lain. Setiap anak bebas bertindak dan berekspresi, tentunya harus dalam koridor yang positif. Niat baik mereka yang berusaha mengilhami rekan sebangku dan sebayanya–dengan membuat antologi puisi ini– patut diacungi jempol. Jean-Paul Sartre (2000) mengatakan bahwa semua anak bisa terilhami, tidak kurang daripada penyair-penyair, karena penyair sesungguhnya tak berbeda dari anak-anak. Maka dari itu, yang muda, yang masih bersekolah, harus peka memulai berimajinasi untuk berkarya, jangan biarkan celah tersebut hanya bersiul tertiup angin.